Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Penerbit adalah orang dan sebagainya yang menerbitkan, atau perusahaan dan sebagainya yang menerbitkan buku, dan majalah.

Penerbitan dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

1. Penerbit Mayor

Penerbit mayor berarti karya akan dicetak dalam ribuan kopi. Ada tim ahli yang menggarap naskah dari mulai editing, layout, desain cover, sampai pemasaran. Selanjutnya hasil cetak akan dipasarkan lebih luas di toko buku besar juga marketplace. Peluang untuk terjual semakin lebar.

2. Penerbit Indie

Penerbit indie adalah solusi bagi mereka yang kurang sabar menunggu konfirmasi dari penerbit mayor. Pencetakan karya dilakukan atas permintaan penulis sendiri. Urusan penjualan juga ditentukan penulis. Penulis menerima penuh hasil dari penjualan.  Penerbit indie juga memiliki editor, designer, dan layouter. Namun, penulis harus merogoh kantong untuk jasa mereka. Soal keahlian pastinya lebih mumpuni tim yang dimiliki penerbit mayor.

3. Self Publishing

Self publishing hampir menyerupai penerbit indie. Di sini penulis melakukan semua fungsinya dari mulai menulis, mengedit, mendesain, membuat layout, sampai penjualan buku. Keuntungannya, penulis tidak perlu membagikan fee pada penerbit. Semua hasil penjualan utuh masuk ke penulis.

Apa Itu Penerbit Mayor?

Kalau kamu suka membaca buku atau mungkin punya mimpi jadi penulis, istilah “penerbit mayor” pasti sering terdengar. Secara sederhana, penerbit mayor adalah penerbit besar yang sudah punya nama, jaringan distribusi luas, dan sistem kerja yang sangat profesional. Mereka inilah yang biasanya melahirkan banyak buku best seller yang sering kita lihat dipajang di rak toko buku terkenal.

Sistem Kerja Penerbit Mayor

Penerbit mayor umumnya punya tim yang lengkap. Mulai dari editor, proofreader, desainer sampul, tim marketing, sampai jaringan distribusi ke seluruh Indonesia. Jadi ketika sebuah naskah berhasil diterima di penerbit mayor, peluang buku itu untuk dikenal orang lebih besar. Bukan hanya karena isi bukunya yang menarik, tapi juga karena dukungan sistem penerbitannya sudah sangat kuat. Misalnya, buku yang diterbitkan bisa dengan cepat masuk ke toko-toko buku besar seperti Gramedia, Togamas, atau jaringan lain yang tersebar di berbagai kota.

Seleksi yang Ketat

Namun, karena skala mereka besar, penerbit mayor juga punya seleksi yang jauh lebih ketat dibanding penerbit kecil atau penerbit indie. Tidak semua naskah bisa lolos. Mereka biasanya hanya memilih naskah yang dianggap punya pasar jelas, ide yang segar, dan gaya penulisan yang kuat. Itu sebabnya banyak penulis pemula sering kali mendapat penolakan ketika mencoba mengajukan naskah ke penerbit mayor. Bukan berarti naskahnya jelek, tapi lebih karena belum sesuai dengan kebutuhan pasar atau standar yang mereka tetapkan.

Contoh Penerbit Mayor di Indonesia

Di Indonesia sendiri ada beberapa nama penerbit mayor yang sudah sangat dikenal luas. Misalnya Gramedia Pustaka Utama, Elex Media Komputindo, Mizan, Bentang Pustaka, hingga Republika Penerbit. Buku-buku mereka hampir selalu mudah ditemukan di toko buku besar dan sering kali juga masuk ke rak “best seller”.

Keuntungan dan Tantangan

Bergabung dengan penerbit mayor tentu punya banyak keuntungan. Penulis bisa mendapatkan promosi yang lebih masif, mulai dari liputan di media, acara peluncuran buku, sampai kesempatan ikut pameran buku besar. Nama penulis pun biasanya lebih cepat dikenal karena penerbit mayor punya reputasi yang sudah dipercaya pembaca.

Tapi di sisi lain, ada juga tantangan yang harus dihadapi. Proses penerbitan bisa memakan waktu lebih lama karena melewati banyak tahap penyuntingan dan kurasi. Royalti pun biasanya sudah punya standar tertentu sehingga penulis tidak bisa sembarangan menegosiasikan tarif.

Mimpi Menjadi Bagian Penerbit Mayor

Meski begitu, banyak penulis tetap bermimpi untuk bisa menerbitkan buku lewat penerbit mayor. Rasanya seperti mendapat pengakuan bahwa karyanya memang layak bersaing di pasar nasional. Jadi, bisa dibilang penerbit mayor adalah pintu besar yang membuka jalan lebar untuk sebuah naskah dikenal luas, meskipun untuk bisa masuk ke dalamnya memang butuh usaha, kesabaran, dan naskah yang benar-benar kuat.

Apa Itu Penerbit Indie?

Kalau tadi kita sudah bahas penerbit mayor yang identik dengan penerbit besar dan punya jaringan luas, sekarang ada satu istilah lain yang juga nggak kalah sering dibicarakan, yaitu penerbit indie. Penerbit indie adalah singkatan dari “independent publisher”. Sesuai namanya, penerbit indie biasanya dikelola secara lebih mandiri, skalanya lebih kecil dibanding penerbit mayor, dan sistem kerjanya jauh lebih fleksibel. Banyak penulis yang akhirnya memilih jalur indie karena ingin karyanya terbit tanpa harus melalui proses seleksi panjang yang biasanya ada di penerbit besar.

Kebebasan Bagi Penulis

Di penerbit indie, seorang penulis bisa lebih bebas menentukan nasib karyanya. Misalnya, naskah yang ditolak berkali-kali oleh penerbit mayor bisa dengan mudah diterbitkan melalui penerbit indie. Tidak ada seleksi super ketat, tidak ada aturan yang membatasi ide, dan tidak ada keharusan naskah harus sesuai dengan pasar tertentu. Karena itu, penerbit indie sering dianggap sebagai ruang yang memberi kebebasan penuh bagi penulis untuk berkarya sesuai dengan idealisme dan gaya mereka masing-masing.

Sistem Kerja Penerbit Indie

Sistem kerja penerbit indie biasanya lebih sederhana. Mereka menerima naskah penulis, membantu dalam hal penyuntingan dan desain sampul, lalu mencetak dalam jumlah terbatas sesuai kebutuhan. Beberapa penerbit indie bahkan menggunakan sistem print on demand, di mana buku baru akan dicetak jika ada pesanan. Hal ini membuat penerbit indie bisa lebih hemat biaya produksi, sekaligus mengurangi risiko buku menumpuk di gudang. Distribusi buku indie juga biasanya tidak sekuat penerbit mayor, karena jarang sekali buku indie bisa masuk ke toko buku besar.

Distribusi dan Promosi

Sebagai gantinya, mereka lebih sering menjual lewat toko buku independen, komunitas, event literasi, atau bahkan langsung dipasarkan secara online lewat media sosial dan marketplace. Banyak penulis merasa penerbit indie memberi ruang yang lebih personal. Mereka bisa ikut terlibat dalam proses kreatif, mulai dari menentukan desain sampul sampai strategi promosi.

Keuntungan dan Tantangan

Selain itu, royalti yang diberikan penerbit indie sering kali lebih besar persentasenya dibanding penerbit mayor, karena sistemnya lebih fleksibel dan jangkauannya lebih terbatas. Namun tentu saja, konsekuensinya penulis juga harus lebih aktif memasarkan bukunya sendiri. Kalau di penerbit mayor promosi biasanya sudah ditangani oleh tim marketing besar, di penerbit indie promosi lebih banyak bergantung pada usaha penulis itu sendiri.

Alternatif yang Lebih Cepat

Penerbit indie sebenarnya juga menjadi jawaban bagi banyak penulis yang ingin bukunya terbit lebih cepat. Proses penerbitan di jalur indie tidak memakan waktu lama, bahkan ada yang hanya butuh beberapa minggu setelah naskah selesai untuk bisa langsung naik cetak.

Apa Itu Self Publishing?

Di dunia kepenulisan, ada banyak jalan yang bisa ditempuh seorang penulis agar karyanya bisa sampai ke tangan pembaca. Selain lewat penerbit mayor yang besar dan profesional, atau penerbit indie yang lebih fleksibel, ada satu jalur lagi yang belakangan semakin populer, yaitu self publishing. Seperti namanya, self publishing berarti penulis menerbitkan bukunya sendiri tanpa melalui pihak penerbit mana pun. Semua proses, mulai dari menulis, mengedit, mendesain, mencetak, hingga memasarkan, diurus langsung oleh penulis, atau paling tidak dikoordinasi penuh olehnya.

Kemandirian Penulis

Self publishing bisa dibilang sebagai bentuk kemandirian seorang penulis dalam memperjuangkan karyanya. Kalau biasanya penulis harus melewati seleksi naskah yang ketat di penerbit mayor, atau menyesuaikan aturan di penerbit indie, lewat self publishing semua keputusan ada di tangan penulis. Penulis bebas menentukan isi buku, desain sampul, layout, jumlah cetak, hingga harga jual di pasaran. Dengan kata lain, self publishing memberikan kebebasan total sekaligus tanggung jawab penuh.

Dukungan Teknologi

Di era digital sekarang, self publishing semakin mudah dilakukan karena sudah banyak layanan dan platform yang mendukung. Ada platform cetak digital yang memungkinkan penulis mencetak dalam jumlah kecil atau dengan sistem print on demand. Ada juga marketplace online, media sosial, dan website pribadi yang bisa dimanfaatkan untuk memasarkan buku langsung ke pembaca.

Tantangan Self Publishing

Namun, self publishing tentu punya tantangan tersendiri. Karena semua proses dipegang penulis, maka dibutuhkan usaha ekstra. Penulis mungkin harus menyewa editor, mencari desainer sampul, memilih percetakan, dan menyusun strategi marketing. Biaya produksi juga biasanya ditanggung sendiri, sehingga butuh modal awal.

Keuntungan Jangka Panjang

Meski begitu, banyak penulis tetap memilih jalur ini. Kendali penuh ada di tangan penulis, keuntungan penjualan lebih besar, dan prosesnya lebih cepat. Bahkan, ada penulis yang awalnya self publishing lalu dilirik penerbit mayor setelah bukunya mendapat sambutan bagus.