Halo Sobat UMKM,
Siapa sangka bahwa makanan di masa lalu dikemas dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti daun pisang, kulit, dan jerami? Melalui perjalanan melintasi zaman, kita akan mengupas lapisan-lapisan cerita menarik tentang bagaimana pengemasan pangan berubah seiring waktu, membawa kita dari tradisi sederhana hingga teknologi canggih masa kini.
Dikutip dari buku karya Prof. Dr. I Nyoman Sucipto, Mp, dkk. yang berjudul Pengemasan Pangan Kajian Pengemasan Yang Nyaman, Aman, Efektif dan Effesien. Bahwa kemasan pangan sudah dikenal sejak zaman prasejarah pada saat itu orang masih menggunakan kemasan menggunakan bahan-bahan alam seperti: daun-daun, kulit buah, kulit kayu, pelepah, batu batuan kerang dan kulit binatang. Pada saat itu fungsinya masih sederhana yaitu untuk keperluan membawa makanan yang tidak habis terkonsumsi.
Pembuatan keranjang dari rumput yang dianyam atau terbuat dari ranting-ranting kayu yang lentur masuk pada zaman Paleolitik. Pada Zaman Neolitik sudah mulai dikenal bentuk-bentuk kemasan seperti cawan, baki, dan benda yang terbuat dari tanah liat, mulai dikenal pula wadah untuk minuman yang terbuat dari tanduk binatang.
Masuk pada zaman sumerian, kemasan jenis kaca sudah dikenal dengan jar kecil yang digunakan untuk mengemas cairan-cairan yang berharga atau ramuan obat atau parfum. Pada tahun 750 terjadi penyebarluasan pemakaian botol, toples, dan tempayan yang terbuat dari tanah. Pengrajin yang terampil membuat kontainer keramik dan kontainer dekoratif lainya untuk menyimpan kemenyan, wewangian, dan salep.
Tahun 1800 Jumlah orang semakin banyak dan semakin tumbuh di Eropa dan Ameria, mulai digunakanlah tong, kotak kayu, dan kantong dari serat secara masif sebagai bahan kemasan. Karena jumlah daripada permintaan semakin meningkat munculah perkembangan kaleng, alumunium, kaca dan kantong kertas sebagai kemasan yang utama untuk digunakan. Kotak kardus pertama kali dibuat di Inggris setelah 200 tahun orang Cina menemukan kertas, tepatnya pada tahun 1817. Dan berubah menjadi perkembangan revolusioner pada akhir abad ke sembilan belas dan dipasarkan dan diproduksi secara komersial pada tahun 1839.
Jadi kardus mulai ditemukan sejak 1817 dan mulai diproduksi secara massal pada tahun 1839, wow menarik ya sobat jadi sebelum kita kenal dengan kardus-kardus kemasan yang sering kita lihat sebagai kotak makanan, kotak alat kecantikan, kotak elektronik dan lain-lain ternyata seperti itulah cerita awal mula kardus tersebut, ok lanjut..
Ditemukanlah oleh Alois Senefelder pada tahun 1798, tentang prinsip litografi yaitu titik signifikan dalam sejerah perkembangan kemasan, dan semakin maju dengan perkembangannya produksi massal. Karena semua kemasan mulai dari kotak kardus, peti kayu, botol, dan kaleng memiliki label kertas, proses litografi label cetakan menjadi salah satu perkembangan yang patut dicatat pada masa itu. Selanjutnya, setiap label atau pembungkus dicetak dengan tangan memakai mesin pres kayu diatas kertas buatan tangan.
Zaman semakin maju persaingan semakin ketat terjadilah penambahan nilai fungsional dari peranan kemasan dan mulai diakui sebagai satu kekuatan utama dalam persaingan setelah sebelumnya kesaman hanya dianggap sebatas untuk melindungi barang atau untuk mempermudah mobilitas saja.
Bahan-bahan kemasan yang terbuat dari kulit, kayu, batu, keramik dan kaca mulai abad pertengahan. namun pada zaman itu kemasan hanya berfungsi sebagai wadah yang melindungi dari pengaruh cuaca saja, melindungi dari proses alam yang dapat merusak barang yang ada didalamnya dan juga wadah yang difungsikan agar mudah saat akan dibawa selama dalam perjalanan kemana-mana.
Tahun 1980 adalah tahun dimana dirasa kemasan bukan hanya berfungsi sebagai wadah saja lebih dari itu kemasan harus menarik perhatian, menggambarkan keistimewaan produk sehingga ada keingingan konsumen untuk membelinya dan peranannya sangat dirasakan dalam strategi pemasaran, itu terjadi setelah semakin ketat dan tajamnya persaingan yang dirasakan.
Pada akhir abad tahun 1990 produsen dengan banyaknya merek-merek produk dijual bersamaan dengan yang mereka miliki, dan menyertakan para insiyur kemasan kedalam tim pengembangan produk dan desain kemasan sebagai bagian tim pemasaran.
Kemasan tradisional memiliki penampilan yang lebih alami, dengan warna, tekstur, dan bentuk yang mencerminkan sifat alamiah. Aroma yang berasal dari kemasan tradisional memberikan rasa dan bau yang khas, yang muncul karena bahan-bahan alami yang digunakan dan dapat mempengaruhi produk di dalamnya. Konstruksi kemasan tradisional menggunakan bahan-bahan alam, memberikan kekuatan dan elastisitas unik yang tidak ada pada bahan buatan yang digunakan dalam kemasan modern.
Dalam zaman pra-modern, masyarakat mengandalkan apa yang diberikan oleh alam untuk hidup mereka. Ketika berbicara tentang kemasan tradisional, kita menemukan elemen khusus yang tidak ada dalam kemasan modern yang menggunakan bahan-bahan buatan. Elemen-elemen ini meliputi penampilan, aroma, dan konstruksi. Perkembangan kemasan sejalan dengan perkembangan manusia. Kemasan tradisional adalah jenis kemasan yang telah digunakan sejak zaman pasar tradisional, dibuat dari bahan-bahan alam.
Di Indonesia, terdapat beragam jenis kemasan tradisional yang sangat beragam. Dikarenakan keberagaman suku di Indonesia, kemasan-kemasan ini memiliki kekayaan yang bervariasi dari setiap wilayahnya. Pada masa itu, masyarakat Indonesia menggunakan berbagai jenis pengemasan tradisional seperti bambu, kulit pohon, daun, rongga batang daun, batu, dan gerabah. Namun, seiring berjalannya waktu, kemasan tradisional ini mengalami penggantian oleh kemasan modern. Perubahan ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup masyarakat, pertumbuhan industri, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perluasan fungsi kemasan.
Pada era modern seperti sekarang, desain kemasan untuk produk makanan umumnya dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori. Klasifikasi kemasan dapat didasarkan pada beberapa faktor atau cara berikut:
Klasifikasi berdasarkan frekuensi penggunaan: Terdapat kemasan sekali pakai, yang langsung dibuang setelah digunakan, seperti kemasan produk instan atau permen. Ada juga kemasan yang dapat digunakan berulang kali (multitrip), biasanya dikembalikan ke produsen, seperti botol minuman, botol kecap, atau botol sirup. Selain itu, ada kemasan atau wadah yang tidak dibuang atau dikembalikan oleh konsumen (semi disposable), tetapi digunakan untuk tujuan lain, misalnya botol yang digunakan sebagai wadah air minum di rumah, kaleng susu yang dijadikan wadah gula, atau kaleng biskuit yang digunakan untuk wadah kerupuk.
Pengelompokan kemasan berdasarkan cara produk bersentuhan dengan kemasan memiliki beberapa jenis: Pertama, kemasan primer, yang secara langsung menyentuh produk yang sedang dikemasnya. Kedua, kemasan sekunder, yang tidak berkontak langsung dengan produk, tetapi melingkupi produk yang telah dikemas dalam kemasan primer. Ada juga kemasan tertiari dan kuartener yang merujuk pada jenis kemasan lainnya.
Klasifikasi kemasan menurut karakteristik bahan kemasan: Pertama, kemasan fleksibel adalah bahan kemasan yang mudah ditekuk tanpa retak atau pecah, seperti plastik, kertas, dan foil. Kedua, kemasan kaku adalah bahan kemasan yang keras, tidak lentur, dan cenderung pecah jika ditekuk, seperti kayu, gelas, dan logam. Kemudian ada kemasan semi kaku atau semi fleksibel, yang memiliki sifat di antara kemasan fleksibel dan kaku. Contohnya adalah botol plastik (susu, kecap, saus) dan wadah berbentuk pasta.
Klasifikasi kemasan berdasarkan kemampuan melindungi lingkungan: Pertama, kemasan hermetis adalah kemasan yang tidak dapat dilewati oleh gas, udara, atau uap air secara sempurna, sehingga bakteri, jamur, dan debu tidak dapat masuk. Contohnya adalah kaleng dan botol kaca yang tertutup erat. Kedua, kemasan tahan cahaya adalah kemasan yang tidak transparan, seperti kemasan logam, kertas, dan foil. Kemasan ini cocok untuk makanan dengan kandungan lemak dan vitamin tinggi, serta produk makanan hasil fermentasi. Ketiga, kemasan tahan suhu tinggi digunakan untuk bahan yang memerlukan pemanasan, pasteurisasi, dan sterilisasi. Biasanya kemasan ini terbuat dari logam dan kaca.